Kisahku

Hai teman, di kesempatan kali ini aku ingin menceritakan sedikit tentang kisahku. Aku lulus dari Sekolah Menengah tahun 2009 namun mulai kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tahun 2010. Mungkin teman-teman bertanya kenapa aku tidak kuliah pada tahun yang sama dengan tahun kelulusanku?? sebenarnya sih waktu itu aku juga sudah bernait kuliah dan mendaftar di beberapa kampus yang salah satunya di UMS, namun sayangnya belum mendapat kesempatan untuk kuliah di tahun tersebut. Dan akhirnya aku memutuskan untuk istirahat 1 tahun dan mendaftar di tahun berikutnya. Dan diselang waktu itu atas saran orang tuaku, aku mengikuti bimbel yang berada di Kotabarat, Surakarta. Singkat cerita akhirnya aku daftar di UMS jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) lewat jalur khusus dan sempat mengikuti SNMPTN juga meskipun gagal.

Setelah masuk kuliah, mulanya aku semangat karena banyak teman yang seumuran denganku (seangkatan) namun itu hanya terjadi satu semester. Memasuki semester 2 aku mulai tidak semangat untuk kuliah karena pada waktu itu aku menjadi bahan olok-olokan sebagian teman cowokku. Karena mungkin aku jarang ngobrol ataupun nongkrong dengan mereka. Dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak masuk kuliah karena menghindari mereka, padahal waktu itu pindah kelas pun bisa tapi tidak aku lakukan malah mengambil keputusan yang salah. Mungkin itu bukan semata-mata menjadi penyebab tidak semangatku untuk kuliah, ada hal lain yang membuatku malas kuliah pada saat itu yaitu terlalu sering main game facebook atau dapat di bilang kecandungan game. Padahal waktu itu aku belum mempunyai laptop dan modem sendiri. Main game di warnet sampai larut malam kadang sampai pagi baru pulang ke kos,  dan waktu siangnya tidur nggak kuliah.

Hal itu terjadi hampir 3 tahun, dari rumah pamitnya kuliah tapi kenyataannya cuma main. Hingga pada penghujung tahun ajaran 2013/ 2014 ( tepatnya bulan februari 2014 ) ada surat pemberian dari kampus tentang perkembangan studi sampai ke rumah, dan orangtua bertanya kepada aku mengapa sks yang aku tempuh masih sedikit padahal sudah 3 tahun lebih kuliah. Awalnya aku belum ngaku kalau aku nggak pernah kuliah dan berbohong bahwa surat dari kampus itu salah. Tapi pada akhirnya aku ngaku juga kepada orangtuaku bahwa selama hampir 3 tahun itu aku nggak pernah kuliah. Mengetahui itu orangtuaku sempat syok tidak sangka anak yang dibanggakannya seperti itu. Orangtuaku pasti merasa malu dengan tetangga dan teman-teman guru di tempat kerja harus ngomong apa jika ditanya tentang kuliahku. Namun orangtua tidak menyerah mendukungku dan menasehatiku supaya masuk kuliah kembali.

Akhirnya aku kuliah lagi setelah orangtuaku datang ke kampus mengurus administrasinya. Tetapi aku tidak langsung kuliah secara teratur masih suka membolos dan mulai tidak kuliah lagi. Sempat juga terfikir olehku untuk keluar dari UMS, namun orangtuaku menasehatiku lagi dan lagi. Sehingga akhirnya aku tidak jadi keluar dan melanjutkan kuliah di UMS. Semoga saja mulai sekarang kuliahku lancar sampai lulus nanti, walaupun kurang maksimal dalam mengikutinya.

Tetapi aku bersyukur hal itu terjadi, mungkin jika kebenaran bahwa aku tidak pernah kuliah itu tak terungkap mungkin saat ini aku belum mulai kuliah lagi. Ini mungkin adalah jalan dari Allah SWT untukku agar menjadi seseorang yang lebih baik dan menjadi pelajaran untukku kedepannya. Tidak lupa terima kasih aku ucapkan kepada orangtuaku yang selalu mendukung dan menyemangatiku.

Ya itulah kisahku, semoga dapat memberikan pengalaman kepada teman-teman yang membaca postinganku ini. Pesanku kepada teman-teman agar selalu jujur dan terbuka kepada orangtua, minta bantuan keluarga jika ada kesusahan. Dan yang terakhir semangatlah dalam studimu selagi masih ada semangat yang menggebu dan masih diberi kesempatan untuk menuntut ilmu. Semoga teman-teman diberi kelancaran oleh Allah SWT dalam segala urusan. Aamiin.

Permasalahan Sosial

Kemerosotan Moral Kaum Remaja

Bukhori Muslim

Banyak remaja saat ini terjatuh ke dalam lembah kenestapaan atas nama cinta. Perasaan mereka telah ternodai pikiran-pikiran sesat yang hanya memperhatikan fisik dan kenikmatan lahir semata. Benak mereka telah dipenuhi oleh khayalan-khayalan berbahaya yang dapat mendorong kepada kemaksiatan serta menjauhkan mereka dari jalan yang lurus dan terjerumus ke dalam lembah dosa. Mereka benar-benar lalai akan nilai-nilai moral, akhlak dan kebaikan.

Akibat Pergaulan Bebas

Pamahaman terbalik tentang makna cinta dan pengorbanan itu telah mendorong terciptanya iklim budaya yang kotor, budaya yang menjunjung tinggi hasrat seksual, serta budaya yang sangat bertentangan dengan agama Islam, yaitu budaya pergaulan bebas dan pacaran.

Akibat pergaulan bebas dan pacaran di atas adalah hilangnya kepedulian mereka terhadap nilai-nilai moral. Mereka hanya  peduli terhadap perasaan yang menyala-nyala serta kerinduan yang berlebihan terhadap lawan jenisnya.

Pergaulan bebas juga berakibat timbulnya penyakit AIDS dan HIV yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Sebenarnya ini adalah peringatan sangat keras dari Allah SWT kepada manusia, namun kebanyakan manusia tidak menghiraukan. Bahkan tidak mau mengerti, sombong, tidak mau mengakui kebenaran Tuhannya.

Dan lebih tragisnya lagi, banyak remaja putri yang menjadi korban seperti terlanjur hamil sementara kekasihnya tidak mau bertanggung jawab, maka jalan yang ia tempuh adalah aborsi atau menggugurkan kandungan. Sehingga tidak jarang remaja yang melakukan aborsi berujung pada kematian.

Pacaran sebagai Pintu Pergaulan Bebas

Kaum remaja yang berpacaran akan menghabiskan banyak waktu dengan pacarnya, terlebih momen-momen liburan. Jarak pun tidak menjadi masalah, sebab HP sebagai alat kumunikasi bisa dijadikan sarana untuk ajang telepon-teleponan.

Kenyataan dalam gaya pacaran remaja menjadikan kasus seksualitas semakin meningkat. Adanya libido seksualitas yang tidak mampu dikelola remaja secara benar dan pada saat yang seharusnya dilakukan, hal ini sering menyebabkan kekeliruan yang fatal.

Gaya pacaran ke arah yang negatif menjadi beberapa gaya pacaran remaja awal, pertengahan dan remaja dewasa sekarang ini. Sebagian remaja tidak tahu efek ditimbulkan karena minimnya informasi tentang pendidikan seks sesuai dengan kultur budaya dan agama. Tapi, ada juga remaja yang tahu efek dari gaya pacaran yang negatif tetapi kurang peduli bahkan bersikap acuh tak acuh dengan akibat yang akan terjadi.

Pacaran inilah sesungguhnya pintu utama menuju pergaulan bebas. Tipe pergaulan yang tidak lagi mengenal etika dan norma-norma agama dan budaya. Pacaran ini pula yang telah menjerumuskan jutaan remaja ke lubang kesengsaraan tiada tara sepanjang masa. Pacaran—apa pun bentuknya—sudah bisa dipastikan berdampak negatif. Tidak ada pacaran yang positif. Karena itu, tidak ada toleransi untuk pacaran.

Bercermin ke Masa Lalu

Kalau kita melihat remaja masa dahulu sedikit sekali bahkan tidak ada yang menuangkan rasa cintanya kepada lawan jenis melalui hubungan khusus yang dikemas pacaran. Karena memang hal ini dianggap tabu dan tidak wajar di masyarakat serta membawa aib bagi keluarga. Sehingga tidak heran kalau di jalan-jalan atau tempat-tempat yang strategis jarang terlihat pemuda dan pemudi yang berduaan sambil berpegangan tangan, berboncengan ke sana kemari.

Urusan jodoh menjadi tanggung jawab orang tua. Karena itu, kebanyakan orang tua dulu langsung menjodohkan anak-anaknya dengan pilihannya tanpa harus ada perkenalan yang nantinya akan berlanjut kepada proses pacaran. Memang ini terjadi sedikit pemaksaan terhadap anak karena mereka sebagian belum siap untuk berumah tangga malah disodori seorang pendamping hidup. Tapi, hal ini dilakukan untuk untuk menghindari aib yang akan melanda ketika anak bebas untuk menentukan jodohnya sendiri.

Tapi, sayang tradisi perjodohan sekarang ini mulai hilang karena banyak asumsi sang anak telah mampu untuk memilih pasangan yang akan dinikahi. Kebanyakan orang tua sudah tidak mau repot untuk mencarikan jodoh anaknya. Orang tua hanya diam saja ketika sang anak pulang ke rumah dengan membawa pacarnya dan keluar malam mingguan malah didukung.

Kesalahan orang tua yang membiarkan anaknya bergaul bebas membuat sang anak lebih bebas dan hal ini dimanfaatkan oleh sang anak untuk berpacaran dengan alasan sebagai calon istri/suami. Oleh karena itu, pihak orang tua harus benar-benar membatasi pergaulan anaknya. Tidak semua orang harus menjadi teman sang anak, dan ini bertujuan menhindarkan anak dari pergaulan bebas yang merugikan orang tua dan anak itu sendiri. Selain itu juga pendidikan keagamaan harus ditanamkan kepada sanga anak sejak dini.

Kini, bagaimana kita akan mengatasi masalah tersebut atau paling tidak mencegah tersebarnya virus maksiat yang berupa budaya pacaran ini? Tentunya jika kita hendak mencari jawaban atas segala permasalahan dalam hidup ini, kita (sebagai muslim) harus mencarinya dari petunjuk yang telah diberikan oleh Allah SWT, yaitu Al-Qur’an. Perasaan mencintai dan ingin dicintai adalah fitrah yang diberikan Allah SWT, kepada manusia sejak awal keberadaan manusia, sebab karena rasa cintalah, manusia ada sampai saat ini.

Kemudian bagaimana jika kita ingin mencari pasangan hidup? Kita ingat hadits Nabi, “Wanita dinikahi karena empat hal: hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah wanita karena agamanya, niscaya kamu akan selamat.”

Sehingga pondasi pernikahan yang terbentuk dari agama akan membawa berkah bagi keluarga dan masyarakat luas, dan kita diperintahkan untuk menomorsatukan agama tidak berarti kita mengabaikan tiga hal sebelumnya. Kita juga disuruh kalau memungkinkan mencari wanita yang cantik wajah maupun hatinya, agar kita tidak kecewa dengannya dan dapat membuat kita merasa tenteram bersamanya.

Dan ketika kita hendak meminang pun kita diperintahkan untuk melihat calon kita tersebut. Jika kita merasa tidak cocok kita bisa membatalkan pinangan tersebut. Ini dimaksudkan agar diperoleh kecocokan di antara keduanya. Selain itu juga harta yang dimiliki atau berpengaruh perekonomian keluarga sehingga kepala keluarga tidak menghalalkan segala ara untuk menghidupi istri dan anaknya. Betapa Allah SWT, telah memberi jalan yang terbaik, teraman dan terindah bagi manusia, jika manusia menyadari.

Dikutip dari : https://majalahqalam.wordpress.com/suplemen-khazanah/edisi-3/artikel/kemerosotan-moral-kaum-remaja/

CERPEN

Semut Yang Nyaris Tenggelam dan Merpati

123-burung-merpati-menyelamatkan-nyawa-semutSeekor merpati melihat seekor semut yang terjatuh ke sungai. Semut kecil ini berjuang dan berusaha menyelamatkan dirinya untuk mencapai ke tepian sungai, tetapi semua upaya yang dilakukan, sia-sia belaka. Karena rasa kasihan, sang Merpati menjatuhkan sebatang jerami di dekat sang Semut agar dia dapat berpegang pada jerami seperti pelaut yang memegang sebilah papan di laut agar dapat terapung. Dengan cara itulah, sang Semut berhasil tiba di tepian dengan selamat.

Tidak lama setelah itu, sang Semut melihat seseorang yang akan melemparkan batu kepada burung Merpati yang tadi menyelamatkannya. Tetapi sebelum orang tersebut melemparkan batunya, sang Semut menggigit tumitnya sehingga rasa sakit yang tiba-tiba, membuat lemparan batunya menjadi meleset dan hal tersebut membuat sang Merpati terkejut, lalu terbang tinggi dan masuk ke dalam hutan yang lebih jauh.

Perbuatan baik tidak pernah sia-sia dilakukan dan selalu mendapatkan balasan yang baik pula.

Puisiku

Puisi

Oh puisi….

Bagaimanakah caraku membuatmu?

Bagaimanakah caraku menulismu?

Oh puisi….

Apakah aku harus berkelana?

Hanya untuk mencari sebuah kata .

Oh puisi….

Inginku merangkaimu,

untuk si dia yang ku cinta.

by : masnug